Sinar Baru Vlog
Unit Kewirausahaan Masyarakat (UKM) cukup banyak ditemukan, terutama skala rumahan yang dikelola ibu rumah tangga sebagai tambahan penghasilan.
Potensi usaha ini dipandang sangat potensial bagi Kepala Kelurahan Kedung Baruk, Rungkut, Surabaya.
Lurah Kedung Baruk Fajar Basuki mengungkapkan pihaknya ingin menggiatkan warga untuk membentuk sentra UKM.
Menurutnya, usaha UKM akan sangat potensial jika dibentuk sebagai sentra.
Selain menambah pemasukan warga, hal ini bisa menjadi daya tarik pengunjung untuk mempelajari kelokalan kampung.
“Kalau bisa ada pembuat tempe daun waru lainnya, nantinya akan saya dorong agar tercipta sentra-sentra UKM, mungkin bisa ada sentra tempe juga,”ungkapnya.
Meskipun baru 1,5 bulan menjabat kepala Kelurahan Kedung Baruk, tetapi ia sudah menggiatkan sosialisasi pada warga terkait pemberdayan masyarakat.
Menurutnya fasilitas kantor kelurahan juga bisa dijadikan tempat pelatihan bagi ibu rumah tangga yang ingin memiliki ketrampilan.
“Yang saya lihat, saat ini usaha di Kedung Baruk memang sudah ada yang besar dan sudah dikenal nasional. Tapi juga ada yang jalan produknya hanya berdasarkan pesanan dan belum stabil,”jelasnya.
Karena itu, ia berupaya untuk memberikan wawasan terkait luasnya pasar bagi produk UKM.
Dengan demikian masyarakat bisa lebih optimis akan produk yang dimiliki dan memasarkannya.
Potensi usaha ini dipandang sangat potensial bagi Kepala Kelurahan Kedung Baruk, Rungkut, Surabaya.
Lurah Kedung Baruk Fajar Basuki mengungkapkan pihaknya ingin menggiatkan warga untuk membentuk sentra UKM.
Menurutnya, usaha UKM akan sangat potensial jika dibentuk sebagai sentra.
Selain menambah pemasukan warga, hal ini bisa menjadi daya tarik pengunjung untuk mempelajari kelokalan kampung.
“Kalau bisa ada pembuat tempe daun waru lainnya, nantinya akan saya dorong agar tercipta sentra-sentra UKM, mungkin bisa ada sentra tempe juga,”ungkapnya.
Meskipun baru 1,5 bulan menjabat kepala Kelurahan Kedung Baruk, tetapi ia sudah menggiatkan sosialisasi pada warga terkait pemberdayan masyarakat.
Menurutnya fasilitas kantor kelurahan juga bisa dijadikan tempat pelatihan bagi ibu rumah tangga yang ingin memiliki ketrampilan.
“Yang saya lihat, saat ini usaha di Kedung Baruk memang sudah ada yang besar dan sudah dikenal nasional. Tapi juga ada yang jalan produknya hanya berdasarkan pesanan dan belum stabil,”jelasnya.
Karena itu, ia berupaya untuk memberikan wawasan terkait luasnya pasar bagi produk UKM.
Dengan demikian masyarakat bisa lebih optimis akan produk yang dimiliki dan memasarkannya.
Hasil Pembelajaran Service Learning, Mahasiswa Petra Gelar Pameran
Sinar Baru – Hasil pembelajaran Service Learning para mahasiswa Universitas Kristen Petra (UK Petra), tidak berhenti disitu saja, namun dibuktikan langsung dengan menggelar pameran karya mahasiswa bertajuk “Buy Local, Shop Local”.
Pameran yang diselenggarakan selama tiga hari sejak tanggal 6 hingga 8 Desember 2017 di selasar gedung P kampus UK Petra, Surabaya, merupakan bagian dari proyek mata kuliah Desain Produk Interior III (DPI III) yang merupakan mata kuliah pilihan dalam Program Studi Desain Interior UK Petra.
Dalam pameran tersebut, para mahasiswa melibatkan tiga kampung unggulan Surabaya sebagai pengguna desain yaitu kampung kue di Penjaringan, kampung bordir di Kedung Baruk dan kampung kerupuk di Gunung Anyar Tambak.
Grace Mulyono S,Sn., M.T. dosen sekaligus koordinator pameran DPI III menyampaikan, bahwa, dalam mata kuliah ini, mahasiswa dibimbing tidak hanya untuk memahami desain produk interior dalam ruang komersial saja akan tetapi harus mampu mempraktekkan fungsi dan terapannya dalam masyarakat.
“Jadi, mahasiswa dituntut untuk dapat mendesain stand atau perabot yang dapat digunakan komunitas untuk berjualan secara temporary,” kata Grace saat ditemui dalam acara pameran, Kamis, (07/12/17).
Tercatat ada empat karya perabot atau stand bazar dan 28 karya dalam bentuk maket dengan skala 1:5 (produk interior retail) yang dipamerkan. Sebelum menghasilkan karya ini, para mahasiswa harus melalui survey dan evaluasi terlebih dahulu. Awalnya para mahasiswa diminta untuk survey ke tiga komunitas tersebut untuk memetakan permasalahan yang terjadi.
Ternyata para komunitas ini membutuhkan stand untuk menaruh barang dagangannya di tiap bazar akan tetapi mereka ada yang menggunakan sepeda motor. Jadi mereka diminta membuat stand bazar yang portable dan mudah dibawa.
Desain produk yang dipamerkan ini sudah melalui proses tahapan evaluasi baik dari dosen maupun para penggunanya. Misalnya seperti komunitas krupuk di Gunung Anyar Tambak yang hanya mempunyai transportasi sepeda motor untuk produknya maka para mahasiswa membuat standnya menggunakan pipa-pipa yang jika dipasang mencapai tinggi 1,5 meter sedangkan jika tidak dipasang tingginya hanya 60 centimeter saja.
“Kami akan melihat beberapa hal dalam menilai karya mahasiswa salah satunya apakah karya ini bisa di bawa ke pameran bazar yang umumnya berukuran 2 meter x 1,5 meter dan fungsional sesuai kebutuhan,” terang Grace.
Mahasiswa semester 5 sejumlah 28 anak ini dibagi menjadi tiga kelompok dan menghasilkan empat karya perabot. Selama tiga hari lamanya mereka akan memamerkan hasil karyanya untuk kemudian di nilai oleh dosen dan mendapatkan masukan dari para komunitas. (BR)
Pameran yang diselenggarakan selama tiga hari sejak tanggal 6 hingga 8 Desember 2017 di selasar gedung P kampus UK Petra, Surabaya, merupakan bagian dari proyek mata kuliah Desain Produk Interior III (DPI III) yang merupakan mata kuliah pilihan dalam Program Studi Desain Interior UK Petra.
Dalam pameran tersebut, para mahasiswa melibatkan tiga kampung unggulan Surabaya sebagai pengguna desain yaitu kampung kue di Penjaringan, kampung bordir di Kedung Baruk dan kampung kerupuk di Gunung Anyar Tambak.
Grace Mulyono S,Sn., M.T. dosen sekaligus koordinator pameran DPI III menyampaikan, bahwa, dalam mata kuliah ini, mahasiswa dibimbing tidak hanya untuk memahami desain produk interior dalam ruang komersial saja akan tetapi harus mampu mempraktekkan fungsi dan terapannya dalam masyarakat.
“Jadi, mahasiswa dituntut untuk dapat mendesain stand atau perabot yang dapat digunakan komunitas untuk berjualan secara temporary,” kata Grace saat ditemui dalam acara pameran, Kamis, (07/12/17).
Tercatat ada empat karya perabot atau stand bazar dan 28 karya dalam bentuk maket dengan skala 1:5 (produk interior retail) yang dipamerkan. Sebelum menghasilkan karya ini, para mahasiswa harus melalui survey dan evaluasi terlebih dahulu. Awalnya para mahasiswa diminta untuk survey ke tiga komunitas tersebut untuk memetakan permasalahan yang terjadi.
Ternyata para komunitas ini membutuhkan stand untuk menaruh barang dagangannya di tiap bazar akan tetapi mereka ada yang menggunakan sepeda motor. Jadi mereka diminta membuat stand bazar yang portable dan mudah dibawa.
Desain produk yang dipamerkan ini sudah melalui proses tahapan evaluasi baik dari dosen maupun para penggunanya. Misalnya seperti komunitas krupuk di Gunung Anyar Tambak yang hanya mempunyai transportasi sepeda motor untuk produknya maka para mahasiswa membuat standnya menggunakan pipa-pipa yang jika dipasang mencapai tinggi 1,5 meter sedangkan jika tidak dipasang tingginya hanya 60 centimeter saja.
“Kami akan melihat beberapa hal dalam menilai karya mahasiswa salah satunya apakah karya ini bisa di bawa ke pameran bazar yang umumnya berukuran 2 meter x 1,5 meter dan fungsional sesuai kebutuhan,” terang Grace.
Mahasiswa semester 5 sejumlah 28 anak ini dibagi menjadi tiga kelompok dan menghasilkan empat karya perabot. Selama tiga hari lamanya mereka akan memamerkan hasil karyanya untuk kemudian di nilai oleh dosen dan mendapatkan masukan dari para komunitas. (BR)
FKPM Wisma Kedung Asem Indah Jadi Wakil Jawa Timur Dalam Lomba Polisi Masyarakat
Tiga
orang dari kepolisian Jepang, Komisaris Jenderal Polisi Mr. Kato
Akihisa, Brigadir Jenderal Pol Mr. Isawa Kazo, dan Mr. Anzai Toshiya,
bersama lima orang dari tim Mabespolri. Siang kemarin (6/1) melakukan
verifikasi terhadap kinerja Polisi Masyarakat (Polmas) binaan
Polrestabes Surabaya. Verifikasi tersebut dilakukan sebagai salah satu
syarat keikutsertaan dalam lomba Polmas, hasil kerja sama Polisi Jepang
dengan Polisi Republik Indonesia.
Kota
Surabaya dipilih, serta mendapat rekomendasi dari Polda Jawa Timur
untuk mewakili Provinsi Jawa Timur dalam keikutsertaan lomba. Hal
tersebut diungkapkan Anzai Toshiya selaku tim verifikator dari
Kepolisian Jepang saat bertandang ke Wisma Kedung Asem Indah, Kelurahan
Kedung Baruk, Kecamatan Rungkut untuk bertemu Forum Kemitraan Polisi dan
Masyarakat (FKPM) Wisma Kedung Asem Indah.
“Kunjungan ini adalah untuk melihat
kondisi FKPM (Polmas) saat berada lapangan, selain itu pengumpulan data
juga diselesaikan hari ini. Untuk lomba ini, dari 12 Provinisi di
Indonesia yang mengikuti lomba, baru terkumpul sembilan (9) data, dan
tiga (3) sisanya yakni, Polda Banten, Polda Gorontalo dan Polda Jatim.
Nantinya, hasil kunjungan tersebut akan kami rangkum dan akan kami
laporkan kepada Kapolda Jatim, dan segera dilakukan penilaian” tegas
Anzai.
Anzai menambahkan, bahwa selama
melakukan peninjauan, ia cukup kagum dengan FKPM yang ada di Kota
Surabaya. Pihak dari kepolisian Jepang merasa, sinergi antara masyarakat
dan FKPM berupa kepercayaan yang tinggi terhadap kinerja FKPM patut
diacungi jempol. “Masyarakat sepenuhnya percaya dengan Polmas, jadi ada
penanggulangan yang dilakukan sendiri oleh Polmas, sehingga tidak perlu
kekepolisian,” imbuh pria yang fasih berbahasa Indonesia ini.
Ketua RW V Wisma Kedung Asem Indah Didik
Edy Susilo memberikan apresiasi tinggi terhadap adanya lomba semacam
ini. Ia merasa FKPM Wisma Kedung Asem Indah yang telah berdiri sejak
tahun 2006 perlu mendapatkan hal baru seperti lomba yang diadakan oleh
Kepolisian Jepang. Berbagai inovasi telah diciptakan FKPM Wisma Kedung
Asem untuk mencegah terjadinya tindak kriminal.
“One Way Gate dan indikator berupa
stiker yang dibubuhkan di kendaraan warga menjadi cara termudah bagi
para FKPM untuk membedakan kendaraan tamu dan warga. Ikhtiar ini
dilakukan untuk mempersempit celah bagi pihak yang tidak bertanggung
jawab masuk ke wilayah perumahan. Selain itu FKPM juga menjadi pengawal
terciptanya kampung yang Green and Clean,” imbuh Didik.
Sementara itu, Kasubdit Kerma Ditbinmas
AKBP Dody Eko Wijayanto menjelaskan bahwa sejak tiga minggu kemarin,
pihaknya diminta Polda Jatim untuk mengirimkan paparan tentang Polmas,
Dari paparan tersebut, dipilihlah 12 yang memenuhi kriteria, dan salah
satunya adalah Jawa Timur.
“Sebenarnya Jawa Timur tidak masuk ke
dalam pilot project mereka (Kepolisian Jepang). Kini pihak dari
Kepolisian Jepang datang untuk verifikasi data dari paparan yang
dikirim. Surabaya di setiap kelurahannya memimiliki FKPM dengan berbagai
job desk, seperti di Wisma Kedung Asem Indah ada kearifan lokal yang
ditanamkan oleh FKPM ini berupa campursari,” imbuh pria yang memukai
para tamu undangan dengan bertindak sebagai dalang saat pagelaran wayang
dalam acara tersebut.
Seno Supriyanto Ketua FKPM Wisma Kedung
Asem Indah menjelaskan, yang membuat FKPM bisa bertahan hingga 10 tahun
lamanya adalah dukungan dari warga. Setiap kegiatan, selalu diadakan
evaluasi. Selain itu, para anggota FKPM juga secara rutin mengikuti
tutorial dari kepolisian melalui Babinkantibnas.
“FKPM Wisma Kedung Asem memenangkan
lomba cipta kampung aman dua kali berturut-turut. Kami mengatasi mulai
dari konflik antar warga hingga masalah debt collector yang memaksa
mengambil mobil milik warga saat kondisi rumah kosong. Penyerahan rekam
jejak FKPM RW 05 sejak 2006 juga diserahkan sebagai bahan penilaian,”
imbuh Seno.
Powered by Blogger.


