Woro-Woro: Untuk Pembayaran PBB Sudah Bisa Di Lakukan Di kantor Kelurahan Kedung Baruk Mulai Tanggal 20 Septermber 2018 hingga 25 September 2019 (Ayo..Orang Bijak Taat Pajak)

Recent Post

News

Pojok Rungkut

Sports

Kegiatan KIM

Videos

Tags

Contact Form

Name

Email *

Message *

Tags

Most Popular

Mitra Sinar Baru


Search This Blog


Recent comments

Berita Kedung Baruk

Seputar Surabaya

Kegiatan KIM

Umum

Sinar Baru Vlog

Lurah Kedung Baruk Siap Mendorong Sentra UKM Tempe

Unit Kewirausahaan Masyarakat (UKM) cukup banyak ditemukan, terutama skala rumahan yang dikelola ibu rumah tangga sebagai tambahan penghasilan.

Potensi usaha ini dipandang sangat potensial bagi Kepala Kelurahan Kedung Baruk, Rungkut, Surabaya.

Lurah Kedung Baruk Fajar Basuki mengungkapkan pihaknya ingin menggiatkan warga untuk membentuk sentra UKM.

Menurutnya, usaha UKM akan sangat potensial jika dibentuk sebagai sentra.

Selain menambah pemasukan warga, hal ini bisa menjadi daya tarik pengunjung untuk mempelajari kelokalan kampung.

“Kalau bisa ada pembuat tempe daun waru lainnya, nantinya akan saya dorong agar tercipta sentra-sentra UKM, mungkin bisa ada sentra tempe juga,”ungkapnya.

Meskipun baru 1,5 bulan menjabat kepala Kelurahan Kedung Baruk, tetapi ia sudah menggiatkan sosialisasi pada warga terkait pemberdayan masyarakat.

Menurutnya fasilitas kantor kelurahan juga bisa dijadikan tempat pelatihan bagi ibu rumah tangga yang ingin memiliki ketrampilan.

“Yang saya lihat, saat ini usaha di Kedung Baruk memang sudah ada yang besar dan sudah dikenal nasional. Tapi juga ada yang jalan produknya hanya berdasarkan pesanan dan belum stabil,”jelasnya.

Karena itu, ia berupaya untuk memberikan wawasan terkait luasnya pasar bagi produk UKM.

Dengan demikian masyarakat bisa lebih optimis akan produk yang dimiliki dan memasarkannya.

Hasil Pembelajaran Service Learning, Mahasiswa Petra Gelar Pameran

Sinar Baru – Hasil pembelajaran Service Learning para mahasiswa Universitas Kristen Petra (UK Petra), tidak berhenti disitu saja, namun dibuktikan langsung dengan menggelar pameran karya mahasiswa bertajuk “Buy Local, Shop Local”.

Pameran yang diselenggarakan selama tiga hari sejak tanggal 6 hingga 8 Desember 2017 di selasar gedung P kampus UK Petra, Surabaya, merupakan bagian dari proyek mata kuliah Desain Produk Interior III (DPI III) yang merupakan mata kuliah pilihan dalam Program Studi Desain Interior UK Petra.

Dalam pameran tersebut, para mahasiswa melibatkan tiga kampung unggulan Surabaya sebagai pengguna desain yaitu kampung kue di Penjaringan, kampung bordir di Kedung Baruk dan kampung kerupuk di Gunung Anyar Tambak.

Grace Mulyono S,Sn., M.T. dosen sekaligus koordinator pameran DPI III menyampaikan, bahwa, dalam mata kuliah ini, mahasiswa dibimbing tidak hanya untuk memahami desain produk interior dalam ruang komersial saja akan tetapi harus mampu mempraktekkan fungsi dan terapannya dalam masyarakat.

“Jadi, mahasiswa dituntut untuk dapat mendesain stand atau perabot yang dapat digunakan komunitas untuk berjualan secara temporary,” kata Grace saat ditemui dalam acara pameran, Kamis, (07/12/17).

Tercatat ada empat karya perabot atau stand bazar dan 28 karya dalam bentuk maket dengan skala 1:5 (produk interior retail) yang dipamerkan. Sebelum menghasilkan karya ini, para mahasiswa harus melalui survey dan evaluasi terlebih dahulu. Awalnya para mahasiswa diminta untuk survey ke tiga komunitas tersebut untuk memetakan permasalahan yang terjadi.

Ternyata para komunitas ini membutuhkan stand untuk menaruh barang dagangannya di tiap bazar akan tetapi mereka ada yang menggunakan sepeda motor. Jadi mereka diminta membuat stand bazar yang portable dan mudah dibawa.

Desain produk yang dipamerkan ini sudah melalui proses tahapan evaluasi baik dari dosen maupun para penggunanya. Misalnya seperti komunitas krupuk di Gunung Anyar Tambak yang hanya mempunyai transportasi sepeda motor untuk produknya maka para mahasiswa membuat standnya menggunakan pipa-pipa yang jika dipasang mencapai tinggi 1,5 meter sedangkan jika tidak dipasang tingginya hanya 60 centimeter saja.

“Kami akan melihat beberapa hal dalam menilai karya mahasiswa salah satunya apakah karya ini bisa di bawa ke pameran bazar yang umumnya berukuran 2 meter x 1,5 meter dan fungsional sesuai kebutuhan,” terang Grace.

Mahasiswa semester 5 sejumlah 28 anak ini dibagi menjadi tiga kelompok dan menghasilkan empat karya perabot. Selama tiga hari lamanya mereka akan memamerkan hasil karyanya untuk kemudian di nilai oleh dosen dan mendapatkan masukan dari para komunitas. (BR)

FKPM Wisma Kedung Asem Indah Jadi Wakil Jawa Timur Dalam Lomba Polisi Masyarakat

Tiga orang dari kepolisian Jepang, Komisaris Jenderal Polisi Mr. Kato Akihisa, Brigadir Jenderal Pol Mr. Isawa Kazo, dan Mr. Anzai Toshiya, bersama lima orang dari tim Mabespolri. Siang kemarin (6/1) melakukan verifikasi terhadap kinerja Polisi Masyarakat (Polmas) binaan Polrestabes Surabaya. Verifikasi tersebut dilakukan sebagai salah satu syarat keikutsertaan dalam lomba Polmas, hasil kerja sama Polisi Jepang dengan Polisi Republik Indonesia.

Kota Surabaya dipilih, serta mendapat rekomendasi dari Polda Jawa Timur untuk mewakili Provinsi Jawa Timur dalam keikutsertaan lomba. Hal tersebut diungkapkan Anzai Toshiya selaku tim verifikator dari Kepolisian Jepang saat bertandang ke Wisma Kedung Asem Indah, Kelurahan Kedung Baruk, Kecamatan Rungkut untuk bertemu Forum Kemitraan Polisi dan Masyarakat (FKPM) Wisma Kedung Asem Indah.

“Kunjungan ini adalah untuk melihat kondisi FKPM (Polmas) saat berada lapangan, selain itu pengumpulan data juga diselesaikan hari ini. Untuk lomba ini, dari 12 Provinisi di Indonesia yang mengikuti lomba, baru terkumpul sembilan (9) data, dan tiga (3) sisanya yakni, Polda Banten, Polda Gorontalo dan Polda Jatim. Nantinya, hasil kunjungan tersebut akan kami rangkum dan akan kami laporkan kepada Kapolda Jatim, dan segera dilakukan penilaian” tegas Anzai.

Anzai menambahkan, bahwa selama melakukan peninjauan, ia cukup kagum dengan FKPM  yang ada di Kota Surabaya. Pihak dari kepolisian Jepang merasa, sinergi antara masyarakat dan FKPM berupa kepercayaan yang tinggi terhadap kinerja FKPM patut diacungi jempol. “Masyarakat sepenuhnya percaya dengan Polmas, jadi ada penanggulangan yang dilakukan sendiri oleh Polmas, sehingga tidak perlu kekepolisian,” imbuh pria yang fasih berbahasa Indonesia ini.
Ketua RW V Wisma Kedung Asem Indah Didik Edy Susilo memberikan apresiasi tinggi terhadap adanya lomba semacam ini. Ia merasa FKPM Wisma Kedung Asem Indah yang telah berdiri sejak tahun 2006 perlu mendapatkan hal baru seperti lomba yang diadakan oleh Kepolisian Jepang. Berbagai inovasi telah diciptakan FKPM Wisma Kedung Asem untuk mencegah terjadinya tindak kriminal.

“One Way Gate dan indikator berupa stiker yang dibubuhkan di kendaraan warga menjadi cara termudah bagi para FKPM untuk membedakan kendaraan tamu dan warga. Ikhtiar ini dilakukan untuk mempersempit celah bagi pihak yang tidak bertanggung jawab masuk ke wilayah perumahan. Selain itu FKPM juga menjadi pengawal terciptanya kampung yang Green and Clean,” imbuh Didik.
Sementara itu, Kasubdit Kerma Ditbinmas AKBP Dody Eko Wijayanto menjelaskan bahwa sejak tiga minggu kemarin, pihaknya diminta Polda Jatim untuk mengirimkan paparan tentang Polmas, Dari paparan tersebut, dipilihlah 12 yang memenuhi kriteria, dan salah satunya adalah Jawa Timur.
“Sebenarnya Jawa Timur tidak masuk ke dalam pilot project mereka (Kepolisian Jepang). Kini pihak dari Kepolisian Jepang datang untuk verifikasi data dari paparan yang dikirim. Surabaya di setiap kelurahannya memimiliki FKPM dengan berbagai job desk, seperti di Wisma Kedung Asem Indah ada kearifan lokal yang ditanamkan oleh FKPM ini berupa campursari,” imbuh pria yang memukai para tamu undangan dengan bertindak sebagai dalang saat pagelaran wayang dalam acara tersebut.
Seno Supriyanto Ketua FKPM Wisma Kedung Asem Indah menjelaskan, yang membuat FKPM bisa bertahan hingga 10 tahun lamanya adalah dukungan dari warga. Setiap kegiatan, selalu diadakan evaluasi. Selain itu, para anggota FKPM juga secara rutin mengikuti tutorial dari kepolisian melalui Babinkantibnas.

“FKPM Wisma Kedung Asem memenangkan lomba cipta kampung aman dua kali berturut-turut. Kami mengatasi mulai dari konflik antar warga hingga masalah debt collector yang memaksa mengambil mobil milik warga saat kondisi rumah kosong. Penyerahan rekam jejak FKPM RW 05 sejak 2006 juga diserahkan sebagai bahan penilaian,” imbuh Seno.
Powered by Blogger.